La Foret Interdite – Chapter 2

 

 

Tittle               : La Foret Interdite – Chaper 2

 

Main Cast      :

 

–          EXO’s Wu Yi Fan (Kris)

–          Hello Venus’ Yoo Ara (Ara)

–          EXO’s Park Chanyeol (Chanyeol)

–          T-Ara’s Park Ji Yeon (Jiyeon)

 

Other Cast     :

 

–          EXO’s Byun Baekhyun (Baekhyun)

–          Hello Venus’ Shin Yoonjo (Yoonjo)

–          Hello Venus’ Song Joo Hee (Alice)

–          EXO’s Oh Se Hun (Sehun)

 

Author: _Autumn59 è nisautari94.wordpress.com

 

Length            : Chapter

 

Genre             : Alternate Universe, Dark, Mystery, Fantasy & Romance(?)

 

 

Note                : Terinspirasi dari mimpi aneh Author. Tapi, ada beberapa yang di rubah. Karena alurnya tidak jelas, biasalah. Mimpi absurd. Ahaha..

 

———————————————————————————————————————

La Foret Interdite – Meetings, Explanations & The Nekclace

 

-Yoo Ara POV-

 

Masih terngiang di telingaku, kalimat yang keluar dari pria itu, Kris.

“Yang mulia. Saya, mewakili kaum Mi-Humain di luar sana, mengucapkan terimakasih. Karena anda sudah kembali, dari tempat pelarian anda”

 

Argh, aku butuh penjelasan!

Ok, aku sadar aku tak dapat berbuat apapun di sini. Terlebih, Kris sekarang meninggalkanku di taman belakangnya.

 

Kulihat sekeliling. Dedaunan, rumput tak terurus, kesan berantakan. Hampir semuanya berwarna coklat. Musim gugur, keadaan menjadi terkesan kering.

 

Biru, suatu warna yang cukup kontras terhampar di depan mataku. Sebuah sungai kecil, ukurannya tak sampai satu meter dan terlihat sangat jernih. Tapi yang kupikirkan, mengapa ada sebuah sungai kecil disini? Bukankah ini sebuah, rumah?

 

Hati kecilku membawa langkahku untuk menelusurinya. Baru beberapa langkah, mataku sudah melihat sumbernya. Sebuah sumur, dan itu cukup meyakinkanku untuk meminum air jernih ini.

 

Kujongkokkan badanku, menatap tanganku sambil tersenyum. Membayangkan betapa segarnya air ini. Sedikit lagi, tanganku hampir mencapai bagian atas air.

 

Namun sebuah tarikan membuatku langsung beranjak. Terkejut, sekaligus marah.

 

“Apa yang kau lakukan!”, teriakku, membuat Kris yang dihadapanku memasang wajah marahnya juga, sampai wajahnya memerah. “Bukannya aku yang seharusnya bertanya, putri  Yoo!”

 

“Apa maksudmu? Aku hanya sekedar ingin minum!”, mataku menatapnya tajam, dan tentu saja. Pria itu balas menatapku tajam. Membuat nyaliku, sedikit menciut.

 

Dengan cepat, Kris menarik tanganku, “Biar kutunjukkan, air apa yang akan kau minum!”. Langah kakinya membawaku ke sumber air. Dengan wajah kesal, aku mendongakkan kepalaku ke dalam sumur.

 

Seketika mulutku membungkam, tak percaya dengan apa yang kulihat. “Lihat! Seharusnya, kau beritahu aku jika kau haus. Jangan memakan dan meminum apapun di sini secara sembarangan!”, Kris menatapku sangar, sedangkan aku hanya bisa mengangguk.

 

Biar kujelaskan, di sumur itu, terdapat entah berapa tubuh mayat. Dan semuanya mengenaskan. Jika saja hanya sekedar mayat yang utuh, jantungku tak mungkin seberdetak ini. Tapi mayat mayat ini, seperti mayat yang kutemui di hutan, tergantung di pohon.

 

Tubuh mereka merah, dikuliti. Terlihat daging, otot serta urat urat tubuh mereka. Rambut mereka bahkan seperti hampir terbakar habis. Mata serta gigi mereka seakan ingin keluar pada tempatnya. Lidah mereka menjulur ke bawah terlihat lebih panjang, entah kenapa. Aku tak tahu.

 

Sebenarnya, aku ingin mengucapkan terimakasih pada pemuda itu, maksudku Kris. Tapi dengan sikapnya yang seperti itu. Untuk memandang wajahnya pun aku sedikit takut dan tidak sudi, gengsi.

 

Kris menghela nafasnya kasar, sedikit kulihat dia berkacak pinggang sebentar. “Ikut aku”, terdengar nadanya sudah sedikit melemah. Walau masih ada secercah kekesalan dari aura serta bahasa tubuhnya.

 

Dia membawaku ke sebuah ruangan kosong. Hanya ada sebuah air mancur kecil di tengah ruangan, aneh.

 

Tangan besarnya menarikku mendekati air mancur, “Air Heilig, minumlah”. Dia lalu membalikkan badannya, dalam beberapa detik hal itu membuatku heran. Lalu tanpa pikir panjang kumajukan wajahku. Meminum air yang keluar dari ujung air mancur. Tanganku sedikit menyentuh airnya. Dingin, segar, dan yang pasti jernih, tak seperti sungai yang tadi.

 

“Kris, aku sudah selesai”, ucapku masih dengan volume rendah. Dia lalu memutar kepala, matanya menyiratkan untuk segera mengikutinya.

Dengan langkah kecil, aku mengikutinya dari belakang. Masih tak berani berada di sampingnya.

 

Lagi, pria ini membawaku masuk ke sebuah ruangan. Terdapat sebuah lemari serta kasur besar yang terbuat dari kayu, berwarna coklat. Membuat ruangan ini terlihat sedikit kosong.

 

Dia mendekati kasur, merebahkan tubuhnya di sana. Dengan perlahan menutup matanya,  menghiraukanku. Membiarkan aku menatapnya dengan sejuta pertanyaan.

 

“Tidurlah”, satu kata terlontar dari bibirnya, membuatku membelakak. Apa katanya tadi? Tidur? Maksudnya, berdua dengannya? Astagah! Aku masih waras!

 

“Apa maksudmu! Bukankah rumah ini besar, kenapa kau tak di kamar lain saja!”, protesku, kesal.

 

Masih dengan santai dan menutup mata, dia menjawab dengan kalimat yang singkat, “Tidak bisa, kau harus tetap bersamaku”,

 

Aku terdiam sesaat, mencerna kalimatnya. “Kau adalah tanggung jawabku”.

 

Ck! Bilang saja kau sedikit tertarik denganku, tuan Wu. Well, aku memang GR. Tapi hal itu mungkin kan?

 

Dengan kesal, aku mendekatinya. Ikut membaringkan badanku lalu berbalik. Menghadap arah yang berlawanan dengannya. Kupejamkan mataku. Karena aku masih memikirkan nasib tubuhku jika aku tidur di lantai, pasti badanku akan remuk keesokan paginya. Jadi, aku mengambil sedikit resiko.

 

 

___________a_u_t_u_m_n__________

 

 

Di tempat lain

 

-Author POV-

 

 

Dengan wajah yang sedikit senang, Baekhyun memalingkan wajahnya. Menatap Yoonjo yang sudah putus asa di sampingnya.

 

“Yoonjo-aa. Lihat!”, ucap Baekhyun dengan antusias. Yoonjo mendongakkan kepalanya, lalu segera menatap Baekhyun.

 

“Kita selamat!”, Dengan cepat, Yoonjo menarik tangan Baekhyun menuju sebuah bungalow di depan mereka. Terlihat lebih kecil dari yang dimiliki Kris.

 

Mereka mengetuk, lalu menunggu dengan sabar sampai pintu besar di depan mereka terbuka. Menampilkan sesosok pria jangkung berambut blonde dengan rahang serta bibir khas nya. Terkesan keren, seperti beberapa tokoh di Komik yang sering di baca Yoonjo dan Ara.

 

 

___________a_u_t_u_m_n__________

 

 

Di luar sana, sinar matahari mulai menyeruak, walau hanya sedikit, karena terhalang oleh rimbunnya hutan Namun hal itu tidak berpengaruh dengan keadaan kamar yang ditiduri Ara bersama Kris. Cahaya cahaya itu seakan terhalang oleh sesuatu. Pencahayaaan di ruangan itu murni bukan karena mentari. Tetapi lampu biasa. Walau di sini aneh. Tapi mereka masih menikmati barang barang modern. Walau tak se- modern di luar hutan.

 

Sesuatu, atau lebih tepatnya telapak tangan menyentuh kulit mulus milik Ara. Merasa terusik, gadis itu mengerjapkan matanya. Hendak memarahi Kris. Hanya pria itu yang dipikirannya. Siapa lagi kalau bukan dia?

 

Saat raut wajahnya sudah menampilkan wajah kesal, gadis itu seketika memutar kepalanya kearah Kris. “bukan Kris. Lalu siapa?”, pikirnya. Kris masih tertidur nyenyak, membuat perasaan takut muncul di hati gadis itu, menggigit pelan bibirnya.

 

Sedetik kemudian, gadis itu kembali terkejut. Bagai angin yang berhembus. Sebuah bayangan tampak melewati sisi kamarnya. Berbolak balik, seperti berlari di kamar itu.

 

Dengan cepat, Ara meremas ujung baju Kris, “Kris, bangun..” . Dengan mata yag masih berjaga jaga, Ara mengguncang tubuh Kris. Membuat pria itu menggeliat pelan.

 

“Kris, cepat bangun. Ada sesuatu. Aku takut!”, nada suara gadis itu melemah namun sedikit terdengar lebih tinggi, antara takut dan sedikit kesal karna Kris tak bangun juga.

 

Kris segera bangkit, menatap Ara dengan tampang kesal. Karena tidurnya terusik, “Ada apa?!”.

“Bayangan, gelap, di sana. Cepat sekali”, jelas Ara, menunjuk ujung ruangan.

 

Kris melihat ke ujung ruangan, berdecak kesal. Nafas nya berhembus berat, “OH SE-HUN!” Kris berteriak, membuat Ara sedikit bingung.

 

Beberapa saat kemudian, bayangan itu berangsur hilang, tergantikan oleh sesosok lelaki yang cukup jangkung. Menampilkan wajah tak bersalah serta tangannya yang menggaruk kepalanya. “Hanya bercanda”, pria yang di panggil Sehun itu membela diri setelah mendapatkan tatapan tajam dari Kris.

 

Menyadari kehadiran Ara yang sempat terlupakan, Kris menatap gadis itu. “Dia Sehun. Yang tadi kau lihat adalah -kemampuannya-. Tak perlu khawatir”. Ara hanya mengangguk mendengar penjelasan Kris.

 

“Dia siapa?”, Tanya Sehun. Membuat Kris mengingat, karena belum memberitahukan keberadaan Ara pada yang lain. “Dia Elizabeth Kinsella”, jawab Kris tenang. Membuat Sehun membulatkan matanya, terkejut.

 

“Choi, Choi Eun Jae maksudmu?!”

 

Dengan santai, Kris mengangguk. Membuat Sehun segera melihat Ara. Dari ujung kaki sampai rambut, lalu kembali ke leher gadis itu. Mendapati sebuah kalung terpampang di sana. “Akhirnya kau kembali! Dan, Kalung itu, kalung itu!”

 

Kris ikut melihat kalung Ara, membuat gadis itu menjadi bingung untuk kesekian kalinya.

 

“Kris, kita harus membawa ke tempatku. Alice” .  “Sungguh, aku baru sadar akan kalung itu” Kris menampilkan sedikit keterkejutan. Bersamaan dengan Ara yang segera memegang erat bandul kalungnya.

 

Sehun membungukkan badannya, sama seperti perlakuan Kris, “Kumohon padamu, tuan putri. Untuk ikut bersamaku”

 

___________a_u_t_u_m_n__________

 

 

Ara memandang sekeliling. Menatap isi ruangan, bungalow milik Sehun. Lalu perhatiannya teralihkan sebentar, melepas jubah hitam yang diberikan Kris padanya tadi. Mengikuti dua pria yang baru kenalnya itu menggantungkan jubah itu pada sebuah besi di ujung pintu.

 

Terdengar suara langkah kaki yang seperti berlari ke arah mereka, tergesa gesa. “Sehun! Sehun!”, sebuah teriakan semakin mendekat. Sedangkan Ara tampak mengernyitkan kedua alisnya, familiar dengan suara itu.

 

“Sehun! Alice mengatakan sesuatu!”, kalimat itu terlontar oleh pria yang sangat di kenal Ara. “Baekhyun!”, Ara mentapnya. “Ara!”

 

“Oh, kalian sudah saling mengenal?”, Tanya Sehun, sedangkan Kris memasang wajah datar, menutupi rasa keingintahuannya. Keduanya mengagguk, “Hey, cepat”, Kris berjalan mendahului mereka semua. Menuju sebuah ruangan yang hampir kosong. Hanya terdapat sebuah peti beserta dua orang gadis di sana.

 

Merasa ada yang datang, gadis yang tak lain adalah Yoonjo itu menatap pintu, menunggu.

 

“Yoonjo!”, teriak Ara, lalu segera memeluk Yoonjo yang masih terkejut.

 

“Bagaimana..” . “Nanti ku jelaskan” ucap Ara.

 

“Apa yang dikatan Alice?”, Tanya Sehun, Yoonjo segera mendekat ke Peti Alice. Seorang gadis berambut blonde menutup matanya di sana, kalau di luar hutan, orang orang akan menyebutkannya sebagai, koma.

 

“Dia datang, Gadis itu kembali. Membawa sebuah pertikaian beserta hal hal buruk lainnya”, gadis itu –Alice- berkata, membuat orang orang yang mengelilingi petinya di sana diam.

 

DEG~

 

Ara merasa terjatuh ke dalam jurang yang dalam serta gelap, dia tahu. Yang di maksud gadis dihadapannya ini adalah dirinya.

 

“Namun, sebuah takdir akan membawa pertikaian itu ke sebuah awal yang baru. Awal dimana tak ada lagi pembantian, pertempuran, dan perebutan kekuasaan. Hal itu akan dicapai, dengan semua pengorbanan dan pertahanan di dirinya. Bertahan dengan semua kekejaman yang akan ikut melalui jalannya”

 

Terhenyak, semua mencoba mencerna kata kata Alice. Tak ada tanda tanda lagi Alice akan mengatakan sesuatu, membuat Sehun segera melihat ke arah Ara.

 

“Kalungmu, bebaskan dia” , Sehun memohon.

 

“Aku tak mengerti caranya”

 

“Oh, kau pasti bercanda! Aku sudah menunggumu berpuluh puluh dekade. Dan kau bilang kau tak bisa?!”, Suara Sehun mulai meninggi, membuat Kris mencoba menahan Sehun.

 

Dengan takut, Ara semakin mendekat, mengikuti nalurinya.

 

Gadis itu melepaskan kalung yang melekat di lehernya, menatap barang itu sejenak. Lalu menggantungkannya tepat di depan wajah Alice.

 

Merah, Cahaya merah mulai mengelilingi daerah itu. Membuat semuanya menutup mata mereka, sinar itu cukup kuat. Lalu dengan perlahan, sinar itu mengelilingi tubuh Alice, Mengangkat tubuh gadis itu kurang lebih satu meter. Dan dengan perlahan, tubuh itu turun kembali. Beserta hilangnya cahaya menyilaukan dari batu Ruby di kalung itu.

 

Dengan perlahan, mereka semua membuka mata, menatap peti Alice. Sehun menampilkan wajah senangnya, mendapati tangan gadisnya, yang terlipat di perutnya mulai bergerak.

 

“Joo Hee!”, Sehun menggenggam tangan itu. Seakan lupa dengan keberadaan yang lain.

 

Perlahan, Alice membuka matanya. Terlihat sedikit bingung. Mendapati ada satu dua, hingga lima orang di sana selain dirinya. Seperti mimpi, akhirnya dia bisa menghirup udara dengan tubuhnya lagi. Begitu menyejukkan.

 

“Sehun” . “Ya, Alice. Ini aku!”

 

Sehun segera memeluk gadis itu. Menyalurkan kerinduan yang sangat mendalam. Dengan ragu, Alice membalas pelukan Sehun. Tersenyum sambil menutup matanya. Penantian, serta buah kesabaran yang selama ini Sehun lakukan, telah berakhir. Memberikan suatu kebahagian dalam dirinya, yang seakan tak bisa diungkapkan melalui kata kata maupun perbuatan.

 

“Ehem”, Suara Kris membuat kedua sejoli itu berhenti. Menyadari keberadaan mereka.

 

“Kami butuh penjelasan”, ucap Baekhyun. Di sertai anggukan oleh Ara dan Yoonjo.

 

Sehun berdiri, menatap yang lain. “Biar kita bicara di tempat lain”, pria itu mulai menampilkan wajah seriusnya.

 

___________a_u_t_u_m_n__________

 

 

Mereka semua tengah berkumpul, duduk mengelilingi meja kayu yang cukup besar.

 

“siapa yang akan bercerita?”, Tanya Ara, menuntut penjelasan.

 

Sehun melirik pria di sebelahnya, “Kau”

 

Pria yang di sebut namanya itu menghela nafas panjang, bersiap bercerita, “Akan kuulangi, dari awal. Karena mungkin, Yoonjo dan Baekhyun belum mengetahuinya”, Kris menatap dua orang di sebutnya sambil tersenyum tipis.

 

“Ara yang kalian kenal, adalah reinkarnasi dari Choi Eun Jae, atau Elizabeth Kinsella. Keturunan satu satunya yang tersisa dari silsilah Sang Bleu, yang bisa menghentikan pertikaian antara Mi-humain , kami. Dan Monstre”, Kris berhenti sejenak, menatap Ara.

 

“Dulu, Ara keluar dari daerah ini, La Foret Interdite. Dikarenakan oleh seorang, pria. Mengabaikan kami di sini yang sangat membutuhkannya”, lanjut Kris, membuat Ara memandangnya penuh tanya sekaligus merasa bersalah. Karena pria ini tak menjelaskan hal itu  sebelumnya.

 

“Dengan kaburnya Ara, kami di sini sudah hampir dua abad lamanya memiliki masa masa sulit. Pertikaian selalu tak terelakkan setiap harinya. Pembantaian dimana mana”

 

Kris menghentikan kalimatnya, seakan memberikan waktu mereka untuk bertanya.

 

“Tunggu! Kau bilang Ara unnie pergi karena seorang pria? Siapa? Dan kau bilang sudah hampir dua abad? Lalu kenapa kalian masih hidup?”, Yoonjo dengan cepat merangkai kalimat tanya itu.

 

“Aku tak tahu siapa pria itu. Dan, ya. Kami masih hidup. Kami makhluk abadi, terkecuali ada beberapa hal yang dapat membuat kami terbunuh”. Kris menyandarkan punggungnya, menjawab pertanyaan dengan santai.

 

Ara menatap Kris, bertanya. “Sumur. Dan mayat mayat itu. Apa yang terjadi? Kenapa mereka mati dengan mengenaskan? Juga, kalung ini. Setahuku, aku sudah memilikinya sejak kecil. Tidak tahu menahu dengan kekuatan yang di simpannya”

 

“Permasalahan apa yang membuat kalian bertikai? Dan apa sebenarnya Mi-humain dan Monstre?”, Yoonjo menatap ingin tahu.

 

“Lalu siapa dan apa yang terjadi terhadap Alice, kenapa dia Koma. Tapi masih bisa berbiacara?”, Baekhyun ikut menimpali.

 

“Hey Hey, sabar. Aku hanya mempunyai satu mulut!”, Kris berdecak kesal. Menyesali memberikan waktu untuk mereka bertanya.

 

“Soal sumur, itu adalah tempat pensucian yang kubuat. Agar arwah mereka bisa di terima di sisi-Nya. Mayat mayat itu, adalah Kaum Monstre. Mereka memakan jantung setiap makhluk. Walau mereka bisa bertahan dengan jantung binatang, namun kekuatan mereka akan bertambah jika Jantung Manusia, atau Mi-humain yang dimakannya. Mereka hanya bisa di musnahkan, dalam tanda kutip. Jika di serang bertubi tubi, dan dengan cepat tubuh mereka di kuliti. Serta rambut yang dibakar jika sempat. Kalung, itu sudah turun temurun. Memang mempunyai kekuatan seperti itu”

 

Mi-humain, kami adalah setengah Manusia. Berbeda dengan kalian. Kami adalah makhluk abadi serta mempunyai kekuatan lebih dari kalian. Kami mempunyai darah dari penggabungan Penyihir, Malaikat serta Manusia. Sedangkan Monstre, mereka adalah Makhluk kegelapan dalam tanda kutip. Mereka adalah penggabungan darah antara Iblis dan manusia, juga sedikit darah penyihir. Menurut cerita, kami bertikai karena sebuah alasan klise” Kris berhenti sejenak, mengambil nafas. Cukup lelah berbicara panjang lebar seperti ini tanpa henti.

 

“Klise?”, Ara menautkan alisnya, menatap Kris.

 

“Ini rumit, aku sendiri bingung untuk menjelaskannya. Di kisahkan. Seorang Iblis, jatuh cinta terhadap Malaikat. Cinta terlarang yang sangat di haramkan Tuhan. Mereka lalu di turunkan ke bumi. Menjadi setengah Manusia. Memang, pada awalnya mereka bahagia, namun lambat laun. Cinta mereka mulai pudar, tergantikan amarah. Yang menyalahkan satu sama lain, karena terusir ke bumi. Sebelumnya, Malaikat wanita itu memang tidak mempunyai nafsu dan kemarahan. Tapi setelah menjadi setengah Manusia. Dia juga mulai berubah, si Iblis pun begitu. Beberapa tahun kemudian, Si Malaikat bertemu dengan Penyihir beraliran putih, dalam artian baik. Dan itu mengubah persepsinya tentang Bumi. Malaikat lalu meninggalkan iblis. Hidup bersama dengan Penyihir, membentuk sebuah kebahagiaan. Mendengar itu si Iblis menemui seorang penyihir wanita beraliran hitam. Berniat meminta bantuan karena kecemburuan, namun si penyihir ini meminta syarat. Dinikahi oleh si Iblis, karena dia sudah jatuh hati. Dengan santai, si Iblis menyanggupi. Bertahun tahun kemudian, Silsilah Malaikat dan Iblis terus bertambah. Dan Iblis lalu menemukan sebuah fakta. Disebutkan, jika ingin mengalahkan suatu kaum. Dia harus menjadikan Jantung sebagai makanan sehari harinya. Pertikaianpun di mulai, kaum Monstre hari demi hari menghabisi kaum  Mi-humain. Sampai suatu saat, si Iblis membunuh Penyihir –suami Malaikat- dengan tangannya sendiri. Membuat Malaikat tanpa pikir panjang membunuh Iblis. Menyisakan sebuah sumpah dari si Iblis tentang pertikaian tak terelakkan sampai berabad abad. Lalu, si Malaikat pergi. Meninggalkan semua keturunannya, sedangkan Penyihir –Istri Iblis-, segera bunuh diri. Hal ini memicu pertikaian antara keturunan Kaum Monstre dan Mi-humain tak terselesaikan sampai sekarang”. Kris mengakhiri ceritanya sembari menyandarkan tubuhnya.

 

“Apa yang terjadi dengan Malaikat? Dan kenapa aku adalah silsilah terakhir?” Ara bertanya lagi, membuat Kris menegakkan punggungnya.

 

“Malaikat mati, tanpa seorangpun tahu kenapa. Menyisakan sebuah Air yang keluar di kuburannya, yang kau minum kemarin. Air itu suci. Soal silsilah, karena Iblis telah membunuh semua keturunan Malaikat. Begini, ibaratkan saja kau adalah keturunan Kerajaan. Dan Kami adalah rakyat biasa. Kita satu, namun berbeda kasta. Mengerti maksudku?”

 

Ara mengagguk, mencoba mengerti arti perkataan Kris.

 

“Hmm, dan soal Alice. Dia adalah Consultatif, serta Clairvoyant. Dia penasehat silsilah Sang Bleu dan seorang yang bisa meramal. Kekuatannya magis. Dia koma, seperti yang kalian bilang. Sesaat setelah ingin mengejar Ara yang hendak melarikan diri dari tanggung jawab untuk menghentikan pertikaian. Dia terkena serangan Monstre, tapi segera di selamatkan oleh Sehun. Soal dia bisa berbicara saat koma, aku tak tahu. Itu adalah Kuasa yang diatas. Ngomong ngomong, dia adalah pacar Sehun”

 

Kris menjelaskan panjang lebar. Dan karena kalimat terakhir, Alice menundukkan wajahnya yang bersemu merah.

 

“Ehem..”, Sehun berdehem, mencoba mencairkan suasana.

 

“Bagaimana rambut baruku?”, Pria jangkung itu menaik uturnkan alisnya. Membuat kesan, freak.

 

“Warna apa itu, Pink. ck. Tak ada warna lain?”, Yoonjo menatap seolah olah itu adalah hal yang menjijikkan untuknya.

 

“Oh, kau belum melihat yang sebelumnya. Seminggu yang lalu, rambutnya sudah seperi pelangi. Campur aduk. Dan baru saja kemarin rambutnya blonde, sekarang diganti lagi menjadi pink”, Kris ikut menimpali.

 

“Hey!”, Merasa di ejek, Sehun menampilkan wajah kesal. “This is my style!”

 

Mendengar itu, Semuanya, tertawa. kecuali Alice yang menahan gelak tawa itu keluar dari mulutnya, masih mengingat pria itu adalah pasangannya.

 

“Tenang saja, kau masih terlihat tampan”, Alice mencoba menenangkan Sehun.

 

Sehun melipat tangan di dada, “Nah! Alice selalu mengerti style ku. Tidak seperti kalian”

 

Gelak tawa antara lucu dan mengejek  keluar dari mulut mereka semua. Sampai Baekhyun menyadari sesuatu.

 

“Sehun, apakah itu peliharanmu?”, Baekhyun menunjuk sesosok burung gagak di tepi jendela. Membuat Sehun membalikkan badannya.

 

Sehun menggeleng, menampilkan wajah datarnya. Lalu sesaat kemudian burung itu pergi.Membuat Sehun dan Kris bertatapan.

 

“Mereka –Monstre- akan tahu mengenai ini”

 

“Semuanya, baru saja dimulai”

 

___________a_u_t_u_m_n__________

 

To Be Continue~

 

Huaaaa… alurnya kecepetan ya?

Ini bikinnya buru- buru. Soalnya besok kan Hari Sabtu, dan waktunya belajar. Senin udah ujian.. Haa. Maaf jika part ini tidak seperti yang di harapkan :((

 

Tapi tetep minta RCL nya, gomawo yg udah mau baca..

 

Park Hye Na / Autumn / Nisa Utari *bow*

22 thoughts on “La Foret Interdite – Chapter 2

  1. Annyeong aku reader baru yang nyasar hahaha😀. Suka banget thor sama ceritanya, bahasa yang dipake juga gampang mudah diterima ga bikin ribet, jalan ceritanya juga menarik. Aku ga pernah nemu ff fantasy kaya gini, yang konfliknya bener bener kerasa, lanjut terus ya thor, hwaiting!!😀

  2. kereennnn
    setelah nyasar kesini, malah ubek2 ff.nya *mian-.-v
    rangkaian kata2nya tersusun istimewa/? indah, lugas, semua tersampaikan jelas, baku, tapi tetap mudah dipahami
    lanjutin dong klo bisa
    saya akan mampir lagi klo sudah ada lanjutannya hehe
    author~~ hwaiting^^

    • lol
      HAI FANS ‘-‘)/
      untuk La Foret Interdite, sampai sekarang chapter 3 nya masih 1/3 ..
      malasahnya sekarang sibuk:/
      pas dapet feel bukan buat FF ini. Tapi FF yang lain ‘-‘)?
      Diusahakan ya.. hehe ._.v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s