Face To Face

Tittle               : Face To Face

 

Main Cast      :

 

          CClown’s Rome

 

          Hello Venus’ Kim Hye Lim (Lime)

 

 

Author            : _Autumn59 è nisautari94.wordpress.com

 

Length            : Ficlet & (Songfic, “D-unit – Face to Face”)

 

Genre              : Alternate Universe, Songfic & Romance

 

 

Note                : Terinspirasi dari lagu & lirik Face To Face. Dalam tahap belajar mengurangi typo & maaf jika alurnya terlalu cepat. Yag bercetak miring itu lyricnya.

 

 

———————————————————————————————————————

 

-Author POV-

 

Angin sore mulai berhembus, ikut menerbangkan beberapa helai daun yang berjatuhan. Orang orang di sekitar gadis itu mulai menaiki bis terakhir. Meninggalkannya sendirian di sana. Wajahnya ditekuk, kesal, sedih, marah dan entah apa lagi.

 

 Terlihat seorang pria yang tadi tengah berlari berhenti di depan gadis itu. Menghela nafasnya lega. “Semuanya, harus di selesaikan sekarang”, pikir pria itu.

 

“Tell me what happened, I love You whatever. Put Your eyes on me girl”, Pria itu berjongkok di hadapan gadisnya. Mencoba menggenggam jemari gadis itu, namun tak berhasil. Gadis itu jengah.

 

“Jelaskanlah. Katakan semuanya, suasana ini membuatku merasa tak nyaman, Lime-aa

 

Lime menatap lelah pada pria itu,“Memulai dari beberapa titik, kita telah menjadi hambar dan kering”

 

Rome menangkup kedua pipi gadis nya itu dengan kedua telapak tangannya, face to face. Membuat mereka saling bertatapan lebih dalam. Sekaligus menyalurkan kehangatan yang dimiliki masing masing, atau lebih tepatnya kehangatan dari telapak tangan pria itu. Semakin membuat wajah Lime memanas.

 

“Percakapan telepon kita tak lebih semenit, kencan kita berkurang”,

 

Lime mencoba mengabaikan kegugupannya pada pria itu. Bermaksud mengeluarkan semua isi hatinya yang sudah berminggu minggu ini membuatnya sesak, tidur tak nyenyak, dan segala hal negative lainnya.

 

“Apakah karena mood mu berubah ubah? Kepalaku sakit. Mengapa mengapa mengapa?!”, Lime mulai menunjukkan sedikit emosinya. Membuat kekasihnya tersentak. Dan reflex melepaskan tangkupan tangannya pada gadis itu.

 

“Itu hanya perasaanmu Lime-aa. Aku tidak…”,

 

Jawaban Rome terpotong. Karena Hey Lim, gadis di depannya itu sudah mengeluarkan sederet kalimat.

 

“Kita terbiasa menjalin jari jari kita saat kita berpegangan tangan. Tetapi apakah kau berpura pura dingin karena kau tidak mau?”, Lime berhenti. Karena melihat raut wajah Rome yang berubah cemas. Menggelengkan kepalanya. Namun gadis itu kembali melanjutkan kalimat kalimat isi hatinya.

 

Lime mengingat berpuluh panggilannya yang tak diangkat, menjadikan hal itu list selanjutnya untuk dikatakan, “Teleponku hanya punya hiasan sederhana dan tidak ada lagi”,

 

“Hey, jika kau khawatir, beritahu padaku. Buka hatimu, boy get your mind right”, Lime melanjutkan.

 

Rome mengeluarkan nafasnya berat. Menatap gadisnya lagi, “Beritahu aku secara langsung. Ada  apa? Mengapa kau tak bahagia? Jika kau punya sesuatu yang tidak kau suka, katakan. Semuanya, jelaskan. Agar aku mengerti”

 

Lime semakin berdecak kesal, “oh. Kau belum mengerti juga? Haruskah semuanya benar benar kuluapkan agar kau mengerti?!”

 

Rome mengeluarkan senyum tipis, mengagguk mengiyakan pernyataan gadisnya tadi.

 

“Padahal kau bukan perempuan! Tetapi kenapa kau sensitive setiap hari?!”, lagi, Lime menunjukkan emosinya. Sudah cukup dirinya bersabar. Inilah saatnya. Saat yang ditunggunya. Dadanya naik turun. Lalu beberapa detik kemudian, dia mulai tenang.

 

“Baby, you just look at me, me. You don’t wanna talk to me, me. Baby you just look at me. Look at me, talk to me, please!, Amarah Lime kembali terlihat di kata terakhirnya. Namun Rome masih diam, sama seperti kata Lime. Pria itu hanya menatapnya, tak berkomentar.

 

“Kepalaku sakit, kau benar benar jahat! Tell me right now!”, Mata gadis itu mulai berkaca kaca, membuat wajah Rome semakin membentuk kecemasan yang amat dalam. Lime memalingkan wajahnya, enggan menatap kekasihnya itu.

 

Rome membuka mulutnya, ingin mengutarakan pendapatnya, “Apakah ini datang dari mana? Come on and bring it back. Mengapa kau tidak melihatku? Apakah kau melakukan hal salah? Jawabannya, tidak. Kau hanya mengutarakan isi hatimu. Akulah yang berada di pihak yang salah, Lime-aa”, dengan lembut, pria itu kembali menangkup wajah Lime. Membuat mau tak mau Lime melihat wajahnya.

 

Jalanan semakin sepi, Sebentar lagi menjelang malam. Dapat terlihat dari awan yang berangsur angsur menjadi kelam. Membuat kecemasan tersendiri di hati pria itu. Mengingat dia tak memakai jaket, dan kedua bahu Lime yang tak berlengan. Andai saja dia memakai benda itu, dia bisa bersikap romantis seperti laki laki lainnya. Melindungi gadisnya.

 

 

“eumm, aku punya masalah pada kulit. Apakah aku jelek? Atau apakah kau tidak menyukaiku?”, suara Lime mulai melemah. “Jika kau bermain main, berhenti. Ini tidak lucu Rome-aa”, lanjut gadis itu. Lalu dengan cepat mengusap matanya sendiri, mencegah cairan di matanya menitik dengan sendirinya.

 

Rome masih menatap nya nanar, merasa sangat bersalah. Bukan ini yang dia kehendaki. Yah, walaupun apa yang sebenarnya dia kehendaki, dia juga tidak tahu apa itu. Dia hanya, lelah. Dan sedikit bosan, seperti laki laki lainnya yang gampang bosan.

 

Namun, di hati kecil pria itu, di balik segala kebosanannya. Tersimpan sejuta perasaan untuk gadisnya ini. Dia orang yang tak mampu merangkai kata, seperti kebanyakan pria yang puitis. Dia bahkan tak bisa mengatakan gombalan gombalan maut seperti teman temannya. Dia terbiasa, ya. Terbiasa dengan langsung melakukan segalanya dengan perbuatan.

 

Hanya dalam beberapa detik, Lime kembali merangkai kata, “kau ingat dulu, hari dengan cuaca yang bagus. Siapa yang aku bicarakan sekarang? Kau meninggalkan cincin pasangan kita di rumah, kan? Rasanya seperti aku berada di pertunjukan satu orang”, Kepalanya menunduk, mata gadis itu menatap cincin di jari manisnya nanar.

 

Disaat bersamaan, Rome menundukkan kepalanya. Menatap ke bawah lehernya. Memandangi sebuah tali terbuat dari campuran logam. Kaos yang dipakainya selalu menutupi bandul kalung itu. Bandul simbol ikatan mereka, cincin itu. Dia memang tak memakai di jemari tangannya, tapi di tempat yang tersembunyi. Dimana hanya dia yang tahu.

 

“Aku jadi sangat lelah menelponmu. Tidak ada jawaban, dimana salah kita? Apakah aku yang buruk? Aku ingin kembali ke hari-hari dimana sesuatu masih jelas dan tidak bersalah”, Lime berucap sangat pelan. Hampir tak terdengar, dan jika saja orang orang masih berlalu lalang. Besar kemungkinan kalimat itu tak terdengar oleh kedua telinga pria itu.

 

Rome mengelus pipi sebelah kanan Lime, “Look, look at me. Baby just look at me. Tell me if you hate me”,  pria itu menghela nafas pelan. “Hey, you drivin’ me crazy”

 

Rome kembali memalingkan wajah Lime kehadapannya. Dua jarinya di tempelkannya ke bibirnya beberapa detik. Lime hanya menatapnya bingung. Dan saat gadis itu ingin membuka mulutnya lagi. Gadis itu terhenti. Bersaman dengan diletakkannya kedua jari yang tadinya di bibir kekasihnya itu –Rome-, menyentuh bibirnya. Ciuman tak langsung. Hal yang membuat Lime terkejut, sekaligus senang. Mengingat ini adalah hal paling manis yang telah dilakukan Rome untuknya. Dia bahkan lebih menyukai ini. Daripada ciuman ciuman Rome sebelumnya. Mungkin karena ini benar benar dari hati, dan suasana yang mendukung.

 

Satu, dua, tiga, sepuluh detik Rome menempelkannya. Membuat jantung Lime kembali berpacu lebih kencang. Walaupun dia memang sering mendapati jantungnya berpacu ketika di dekat pria dihadapannya ini, namun ini lain dari biasanya. Sama seperti dulu, saat pertama kali pandangannya bertemu dengan Rome. Jantungnya juga seperti ini.

 

Sensasi tersendiri. Mengingat, pria inilah satu satunya yang bisa membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Lime’s First Love.

 

Rome menarik jemarinya dari bibir gadis di depannya. Membuat nafas Lime yang tadinya tercekat, bisa menarik oksigen lagi dengan lega.

 

Pria itu mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah Handphone. Membuat Lime kembali menatapnya bingung.

 

“Baru saja hari ini selesai di perbaiki. Aku bahkan belum sempat mengganti casingnya”, Rome menyerahkan benda ditangannya. Memperlihatkan betapa mengenaskannya handphone itu, banyak goresan di sana sini.

 

“Terjatuh di jalan. Mungkin sempat terinjak beberapa orang. Namun aku berhasil menemukannya kembali”, jelas pria itu.

 

Kalimat itu membuat keadaan terbalik. Kini gadis itulah –Lime-  yang merasa bersalah.

 

Tak hanya itu, Rome mengeluarkan bandul kalungnya, membuat Lime kembali menatapnya tak percaya. “Di sini. Ini yang kau kira selalu tak ku pakai”, Rome tersenyum tipis. Membuat kenyataan yang begitu berbelit belit bagi Lime.

 

Refleks, Lime memeluk pria di depannya. Menyalurkan segala perasaannya. “Maafkan aku. Sungguh, maafkan aku”, Air mata yang tadinya di tahan gadis itu, keluar dengan sendirinya tanpa hambatan.

 

Rome memeluk balik gadisnya, “Kita hanya memiliki sebuah kesalah pahaman, Lime-aa. Kita sama sama bersalah. Tak peduli sebesar apapun. Dan untuk waktu yang mendatang, jika hal ini terjadi lagi. Kita hanya harus melakukan, kau tahu. Face to Face. Agar semuanya bisa diperjelas”.

 

Dibalik wajah Rome yang dipeluknya, gadis itu mengangguk. Membuat Rome kembali mengeluarkan senyum tipisnya, dan telapak tangannya mengelus punggung gadis itu.

 

Lima menit, mereka saling diam. Hanya meyalurkan perasaan melalui pelukan, namun seketika Rome teringat. Gadisnya ini mungkin sudah sangat kedinginan.

 

“Sudah malam, angin semakin kencang. Dan mungkin akan segera hujan. Kau pasti akan sangat kedinginan nantinya”, Rome beranjak smbil memeluk kedua bahu Lime. Gadis itu hanya mengagguk.

 

“Kajja..”,

 

Dan di tengah suasana yang dingin itu, keduanya berandengan tangan. Melangkah dengan ringan, melukiskan segala kebahagiaan di hati mereka dengan sebuah senyum yang menyejukkan hati. Menjalin sebuah ikatan mereka selama ini, semakin terikat dengan kencang. Seakan hampir tak bisa di putus lagi.

 

 

-THE END-

 

 

End… Tamat ^^

Happy Ending..

Wdyt?

RCL please ^^

 

Park Hye Na / Nisa Utari / @_Autumn59 *bow* ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s